Kabupaten Subang merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Barat yang berada di wilayah utara pulau Jawa (pantura). Ekosistem pesisir pantura mewarnai kehidupan masyarakat desa-desa yang berada di sepanjang pantai wilayah kabupaten ini. Kabupaten Subang yang memiliki luas wilayah 205.176,95 ha, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 48/1999 terbagi atas 22 Kecamatan atau 243 Desa dan 8 Kelurahan (Anonim, 2005). Hanya 4 kecamatan yang merupakan kecamatan di wilayah pesisir, yaitu Kecamatan Blanakan (7 desa pesisir), Pamanukan (1 desa pesisir), Legonkulon (5 desa pesisir), dan Pusakanegara (1 desa pesisir).

Peta wilayah Pamanukan, Subang Jawa Barat (dan inset)

Ekosistem mangrove di kawasan pantai utara Jawa (Pantura), khususnya di pesisir Pamanukan Kabupaten Subang dari dulu sampai saat ini telah mengalami banyak perubahan, di mana sesuai dengan fungsi yang disandang adalah sebagai hutan lindung yang berada dalam kawasan hutan negara dan dikelola oleh Perum Perhutani BKPH Ciasem-Pamanukan. Namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ekosistem mangrove sudah banyak yang terkonversi menjadi lahan tambak yang diusahakan masyarakat guna memenuhi kebutuhan hidup dengan komoditi utama berupa ikan bandeng dan udang. Dari segi ekologi, jelas ini merupakan penyimpangan yang tidak bisa dibenarkan karena selain menghilangkan sebagian ekosistem mangrove juga telah mengubah ciri fisik rantai makanan yang ada sebelumnya .

Vegetasi utama yang mendominasi ekosistem mangrove di pesisir Pamanukan Subang, Jawa Barat yaitu jenis Avecennia marina. Selain itu terdapat pula jenis Rhizophora mucronata. Adapun karakteristik ekosistem mangrove di wilayah tersebut yaitu berupa substrat lumpur dan genangan air. Seperti tampak pada gambar 1.

Gambar 1

Tidak jauh berbeda, jenis-jenis fauna yang hidup di daerah ekosistem mangrove pada umumnya. Jenis fauna mangrove di daerah Pamanukan pun terdiri dari berbagai macam burung, mamalia, reptil, serangga (fauna darat) dan kepiting , kerang-kerangan (bivalvia), cacing, udang-udangan, ikan-ikan kecil, ikan-ikan besar (fauna air) serta mikroorganisme (detritus) pastinya.

Tingkatan trofik yang terjadi yaitu umumnya dari tingkat produsen primer → konsumen 1 → konsumen 2 → predator → detritus (pengurai). Namun dengan kondisi dan situasi yang berbeda-beda dan dengan adanya keanekaragaman jenis fauna disana, maka rantai makanan tidak selalu sesuai dengan tingkatan trofik diatas. Misalnya, telah terjadi rantai makanan seperti ini :
1.Daun jatuh (mangrove) Detritus
Disini telah terjadi rantai makanan ”produsen primer → pengurai”
2. Daun jatuh (mangrove) udang-udangan ikan kecil burung bangau detritus
Disini telah terjadi rantai makanan ”produsen primer → konsumen 1 → konsumen 2 → predator → pengurai”
Selain rantai makanan diatas, tentunya rantai makanan yang terjadi sangatlah bervariasi. Agar kita dapat lebih memahami berbagai rantai makanan yang terjadi pada ekosistem mangrove, maka kita akan memperjelasnya dengan bagan dibawah ini.

Jika terjadi rantai makanan, maka telah terjadi aliran energi didalamnya. Nutrien-nutrien, unsur hara baik makro (K, Mg, Ca, P, N) dan mikro (Fe, Cu, Mn). Sebagaimana kita ketahui bahwa aliran energi merupakan suatu siklus yang sejalan dengan adanya rantai makanan, siklus ini bisa dikatakan senyawa-senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik lalu kembali lagi ke komponen abiotik.

Pada ekosistem mangrove, nutrien unsur hara makro dan mikro ada yang terserap oleh akar mangrove, ataupun terendapkan dalam lumpur dan terakumulasi atau diserap langsung oleh fauna air. Jika diserap oleh mangrove maka telah terjadi perpindahan energi dari lingkungan ke biotik (mangrove). Selanjutnya mangrove yang mati (daun gugur) dimakan oleh fauna air ataupun darat (konsumen 1) maka pada tahap ini telah terjadi perpindahan baik materi maupun energi ke fauna tersebut, energi ini dimanfaatkanya baik untuk bergerak, tumbuh, bahkan sampai tahap perkembangbiakan. Jika setelah tahap ini terjadi proses makan dimakan lagi maka perpindahan energi pun akan terus berlanjut sampai pada tingkat pengurai. Kemudian aliran energi dan senyawa-senyawa kimia kembali ke lingkungan.

LAMPIRAN GAMBAR

(fauna-fauna yang menempati ekosistem mangrove di pesisir Pamanukan)

REFERENSI

http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-taufikkura-28929

puslitsosekhut.web.id/download.php?page=publikasi⊂=info.

http://ariestio.multiply.com/photos/album/41/FloRa_dAn_FauNa_ManGroVe_


Ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Haeckel yakni sekitar tahun 1860an. Istilah ekologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu  “oikos” yang berarti  rumah dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi, ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya..

Ekologi laut dikelompokkan menjadi Ekologi Laut Tropis, Ekologi Laut Subtropis dan Ekologi Laut Kutub. Masing-masing ekologi ini memiliki ciri khas tersendiri, sesuai dengan kondisi geografis daerah masing-masing. Berdasarkan tingkat produktivitasnya, ekologi laut tropis memiliki produktivitas yang paling tinggi. Hal ini dikarenakan sinar matahari yang secara terus-menerus menyinari wilayah ini sepanjang tahun (hanya terdapat musim kemarau dan musim penghujan). Kondisi ini merupakan kondisi optimal bagi produksi fitoplankton yang merupakan produsen primer di lautan, dimana organisme ini memerlukan sinar matahari untuk proses fotosintesis. Pada ekologi laut subtropis memiliki tingkat intensitas penyinaran sinar matahari yang bervariasi menurut musim dimana wilayahnya terdiri dari empat musim (dingin, semi, panas, gugur). Sehingga, setiap musim memilki tingkat produktivitas yang berbeda, pada saat musim semi tingkat produktivitasnya tinggi, sedangkan pada saat musim dingin tingkat produktivitasnya paling rendah. Sedangkan pada ekologi laut kutub memilki tingkat produktivitas yang paling rendah dibandingkan dengan ekologi laut lainnya. Masa produktivitas di ekologi laut kutub sangat pendek yakni antara bulan Juli atau Agustus.

EKOLOGI LAUT TROPIS

Seperti dijelaskan sebelumnya, ekologi laut tropis memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi. Dalam ekologi laut tropis dapat kita temukan ekosistem-ekosistem yang khas seperti ekosistem mangrove, ekosistem lamun, ekosistem terumbu karang dsb. Pada masing-masing ekosistem ini dapat kita jumpai berbagai jenis makhluk hidup yang memiliki ciri khas masing-masing, sesuai dengan habitatnya.

Makhluk hidup yang tinggal pada habitatnya, mempunyai cara-cara tersendiri untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi dibedakan menjadi tiga yaitu adaptasi fisiologis, adaptasi morfologis, dan adaptasi kultural. Dengan adanya adaptasi yang dilakukan makhluk hidup, dimungkinkan terjadinya evolusi.

Apabila kita membahas dimana tempat tinggal makhluk hidup berada atau yang biasa kita sebut habitat, maka tidak akan lepas dari apa yang disebut dengan Niche. Konsep relung (niche) dikembangkan oleh Charles Elton (1927), seorang ilmuwan Inggris. Konsep ini menerangkan bahwa organisme tidak hanya bergantung dimana organisme itu hidup, tetapi juga pada apa yang dillakukan organisme termasuk mengubah energi, bertingkah laku, bereaksi, mengubah lingkungan fisik maupun biologi dan bagaimana organisme dihambat oleh organisme lain.

Proses kehidupan yang dilakukan makhluk hidup sesuai dengan konsep Niche diatas. Seperti mengubah energi dari proses makan memakan dsb. Maka akan terdapat suatu aliran energi maupun materi. Contohnya seperti siklus Biogeokimia.

SIKLUS BIOGEOKIMIA

Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus ini berguna untuk mengembalikan  unsur kimia yang telah terpakai. Pada kenyataannya 30-40% unsur kimia yang dibutuhkan oleh makhluk hidup.

Cara nutrient masuk ke suatu ekosistem

  1. Weathering
  2. Atmospheric input
  3. Biological Nitrogen Fixation
  4. Immigration

Cara nutrient keluar dari ekosistem

  1. Erosi
  2. Leaching, Intrusi
  3. Gaseouslosses, pembuangan berupa gas
  4. Emigration and harvesting

Siklus Nitrogen

Jumlah nitrogen di atmosfer hampir mencapai 80%. Bentuk atau komponen Nitrogen dapar berbentuk NH3 (Ammonia), N2 (molukel Nitrogen), N2O (dinitrit oksida), NO (Nitrogen Oksida), NO2 (Nitrogendioksida), HNO2 (asam nitrit), HNO3 (asam nitrat), R3-N (basa amino) dan lain-lain. Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah dalam bentuk ammonia, ion nitrit, dan ion nitrat.

Siklus Fosfor

Dialam fosfor terdapat dalam dua bentuk yaitu fosfat organik dan fosfat anorganik. Fosfat organik berasal dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) sedangkan fosfat anorganik berasal dari batuan atau fosil yang terkikis dan terlarut dalam air laut dan air tanah kemudian fosfat anorganik ini akan diserap lagi oleh akar tumbuhan.

Siklus Karbon dan Oksigen

Siklus ini  merupakan siklus biogeokimia terbesar. Ada 3 hal yang terjadi pada karbon : 1) terdapat dalam tubuh, 2) merupakan hasil respirasi dari hewan, dan 3) berasal dari sampah atau sisa-sisa. Dimana karbon ini 45% digunakan untuk pertumbuhan, 45% untuk respirasi, dan 10% untuk DOC. Karbon yang masuk ke dalam perairan melalui proses difusi.

Ekosistem Mangrove

Mangrove merupakan salah satu habitat utama di pesisir selain padang lamun dan terumbu karang. Mangrove merupakan suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di daerah pasang surut. Sehingga mangrove memiliki toleransi yang tinggi terhadap fluktuasi salinitas. Mangrove terdiri beberapa jenis antara lain Avicenniaceae,Combretaceae, Arecaceae, Rhizophoraceae, lythraceae.

Fungsi hutan mangrove antara lain:

  1. Sebagai peredam gelombang dan angin
  2. Sebagai penghasil sejumlah detritus
  3. Sebagai habitat beberapa satwa liat dari daerah teresterial
  4. Sebagai daerah asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan (feeding grounds), dan daerah pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya.
  5. Sebagai penghasil kayu konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang, dan bahan baku kertas.
  6. Sebagai tempat ekowisata.

Ancaman terhadap hutan mangrove:

  1. Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak, pemukiman, pertanian, pelabuhan dan perindustrian
  2. Pencemaran limbah domestik dan bahan pencemar lainnya
  3. Penebangan ilegal

KRITERIA BAKU KERUSAKAN HUTAN MANGROVE

Kepmen LH No.201 tahun 2004

Ekosistem Terumbu Karang

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae. Zooxanthellae adalah suatu jenis algae yang bersimbiosis dalam jaringan karang. Zooxanthellae melakukan fotosintesis menghasilkan oksigen yang berguna untuk kehidupan hewan karang.Terumbu karang memang unik,Terumbu ini dibangun dari proses biologik, yang merupakan timbunan masif dari kapur CaCO3 yang dihasilkan oleh hewan karang dan juga alga berkapur dan organisme-organisme penghasil kapur lainnya. Terumbu karang hidup di perairan dangkal yang jernih dimana sinar matahari dapat tembus sehingga terumbu karang dapat tumbuh secara maksimum. Suhu air yang berkisar  antara 23 – 32 derajat celcius dan salinitas yang berkisar antara 32 – 36 permil serta pH berkisar 7.5 hingga 8.5.

Manfaat terumbu karang

  • Berperan penting bagi pertumbuhan sumberdaya perikanan (sebagai feeding ground, fishing ground, spawning ground and nursery ground)
  • Mencegah terjadinya pengikisan pantai (abrasi)
  • Sebagai daya tarik wisata bahari
  • Secara global terumbu karang berfungsi sebagai pengendap kalsium yang mengalir dari sungai ke laut
  • Sebagai penyerap karbondioksida dan Gas Rumah Kaca (GRK) lainnya

Ancaman terhadap terumbu karang

  • Pencemaran minyak dan industri,
  • Sedimentasi akibat erosi, penebangan hutan, pengerukan dan penambangan karang
  • Peningkatan suhu permukaan laut
  • Buangan limbah panas dari pembangkit tenaga listrik
  • Pencemaran limbah domestik dan kelimpahan nutrien
  • Penggunaan sianida dan bahan peledak untuk menangkap ikan
  • Perusakan akibat jangkar kapal

Upaya pelestarian terumbu karang

  • Mengendalikan/ meminimalkan penambangan karang untuk lahan bangunan
  • Mencegah kegiatan pengerukan atau kegiatan lainnya yang menyebabkan terjadinya endapan

KRITERIA BAKU KERUSAKAN TERUMBU KARANG

* Kepmen LH No.4 tahun 2001

Metode pengukuran terumbu karang biasanya menggunakan metode transek garis.

Ekosistem padang lamun

Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae),mempunyai akar,batang,daun sejati yang hidup pada substrat berlumpur, berpasir sampai berbatu yang hidup terendam di dalam air laut  dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Padang lamun ini merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang  tinggi. Fungsi ekologi yang penting yaitu sebagai feeding ground, spawning ground dan nursery ground beberapa jenis hewan yaitu udang dan ikan baranong, sebagai peredam arus sehingga perairan dan sekitarnya menjadi tenang

Ancaman terhadap padang lamun

  • Pengerukan dan pengurugan dari aktivitas pembangunan (pemukiman pinggir laut, pelabuhan, industri dan saluran navigasi)
  • Pencemaran limbah industri terutama logam berat dan senyawa organoklorin
  • Pembuangan sampah organik
  • Pencemaran limbah pertanian
  • Pencemaran minyak dan industri

Upaya pelestarian padang lamun

  • Mencegah terjadinya pengrusakan akibat pengerukan dan pengurugan kawasan lamun
  • Mencegah terjadinya pengrusakan akibat kegiatan konstruksi di wilayah pesisir
  • Mencegah terjadinya pembuangan limbah dari kegiatan industri, buangan termal serta limbah pemukiman
  • Mencegah terjadinya penangkapan ikan secara destruktif yang membahayakan lamun
  • Memelihara salinitas perairan agar sesuai batas salinitas padang lamun
  • Mencegah terjadinya pencemaran minyak di kawasan lamun

Kriteria Baku Kerusakan dan Status Padang Lamun menurut Kepmen LH No.200 Thn 2004

Metode untuk pengukuran dan penentuan status padang lamu adalah dengan menggunakan metode Transek Garis atau Line Intercept Transect dan Petak Contoh (Transect Plot)


Vegetarian

Sebenarnya apa sih yang disebut Vegetarian? Tentu kalian semua telah mengetahuinya. Vegetarian adalah orang yang hanya memakan sayuran. Tapi adakah hubungan vegetarian dengan global warming? Sebelumnya, mari kita cari tahu dulu tentang global warming.

Global warming

Global warming sering pula disebut pemanasan global. Sebenarnya apakah pemanasan global itu? Secara singkat pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi. Pertanyaannya adalah: mengapa suhu permukaan bumi bisa meningkat?

Penyebab Pemanasan Global

Penelitian yang telah dilakukan para ahli selama beberapa dekade terakhir ini menunjukkan bahwa ternyata makin panasnya planet bumi berhubungan langsung dengan gas-gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktifitas manusia. Kebanyakan dari gas rumah kaca ini dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, peternakan, serta pembangkit tenaga listrik.

Lalu apakah yang disebut dengan Gas Rumah Kaca itu?

Atmosfer bumi terdiri dari bermacam-macam gas dengan fungsi yang berbeda-beda. Kelompok gas yang menjaga suhu permukaan bumi agar tetap hangat dikenal dengan istilah “gas rumah kaca”. Disebut gas rumah kaca karena sistem kerja gas-gas tersebut di atmosfer bumi mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi menahan panas matahari di dalamnya agar suhu di dalam rumah kaca tetap hangat, dengan begitu tanaman di dalamnya pun akan dapat tumbuh dengan baik karena memiliki panas matahari yang cukup. Planet kita pada dasarnya membutuhkan gas-gas tesebut untuk menjaga kehidupan di dalamnya. Tanpa keberadaan gas rumah kaca, bumi akan menjadi terlalu dingin untuk ditinggali karena tidak adanya lapisan yang mengisolasi panas matahari. Sebagai perbandingan, planet mars yang memiliki lapisan atmosfer tipis dan tidak memiliki efek rumah kaca memiliki temperatur rata-rata -32o Celcius.

Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Rusaknya hutan-hutan yang  seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer.

Adapun fakta-fakta yang berkaitan dengan global warming:

Fakta pertama, mencairnya es di kutub utara maupun di kutub selatan.

Pemanasan Global berdampak langsung pada terus mencairnya es di daerah kutub utara dan kutub selatan. Es di Greenland yang telah mencair hampir mencapai 19 juta ton! Dan volume es di Artik pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari yang ada 4 tahun sebelumnya.

Menurut para ahli, mencairnya es saat ini berjalan lebih cepat dibandingkan dengan model-model prediksi yang mereka buat. Beberapa prediksi awal yang pernah dibuat sebelumnya memperkirakan bahwa seluruh es di kutub akan lenyap pada tahun 2040 sampai 2100. Tetapi data es tahunan yang tercatat hingga tahun 2007 membuat mereka berpikir ulang mengenai model prediksi yang telah dibuat sebelumnya.

Dengan menggunakan data es terbaru, serta model prediksi yang lebih akurat, Dr. H. J. Zwally, seorang ahli iklim NASA membuat prediksi baru yang sangat mencengangkan: HAMPIR SEMUA ES DI KUTUB UTARA AKAN LENYAP PADA AKHIR MUSIM PANAS 2012!


Fakta kedua, meningkatnya level permukaan air laut.

Dengan mencairnya es di kutub utara dan di kutub selatan, tentu saja berdampak langsung terhadap naiknya level permukaan air laut.

Fakta ketiga, perubahan iklim/cuaca yang semakin ekstrim

Kita dapat lihat sendiri dampak yang terjadi akibat pemanasan global pada lingkungan kita. Kamu pasti merasakan suhu lingkungan semakin panas akhir-akhir ini. Dan kamu juga bisa dapat melihat betapa tidak dapat diprediksinya kedatangan musim hujan ataupun kemarau yang mengakibatkan kerugian bagi petani karena musim tanam yang seharusnya dilakukan pada musim kemarau ternyata malah hujan. Serta kamu juga dapat mencermati kasus-kasus badai ekstrim yang belum pernah melanda wilayah-wilayah tertentu di Indonesia. Tahun-tahun belakangan ini kita makin sering dilanda badai-badai yang mengganggu jalannya pelayaran dan pengangkutan baik via laut maupun udara.

Lalu seberapa seriuskah dampak global warming atau pemanasan global ini.

Menurut Gregory R dari universitas yang terkenal di AS, Northwestern, bahwa “Pemanasan Global bisa menyebabkan ledakan gas metana yang besarnya 10.000 kali lipat daripada ledakan yang dihasilkan seluruh senjata nuklir yang ada di dunia, juga dapat menyebabkan lautan api dan banjir yang maha dasyat sehingga menyebabkan kepunahan 90% spesies laut dan 75% spesies darat”.

Dari pernyataan tersebut bahwa dampak yang paling mengerikan akibat pemanasan global, disebabkan karena gas metana. Metana adalah gas dengan emisi rumah kaca 23 kali lebih ganas dari karbondioksida (CO2), yang berarti gas ini kontributor yang sangat buruk bagi pemanasan global yang sedang berlangsung.

Bagaimanakah solusinya?

Setelah mengetahui fakta-fakta dan dampak yang terjadi di lingkungan kita, pertanyaannya bagaimanakah solusi untuk menghentikan laju global warming? Yang terpenting adalah KEMAUAN YANG KUAT UNTUK BERUBAH!

Ada lima hal yang harus diperhatikan untuk menyelamatkan bumi kita dari dampak pemanasan global.

  1. Berhentilah makan daging
  2. Batasilah emisi karbon dioksida
  3. Tanamlah pohon yang lebih banyak
  4. Daur ulang dan gunakan ulang
  5. Gunakan alat transportasi alternatif untuk mengurangi emisi karbon

Vegetarian : Sebuah langkah untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global


Setelah kita memahami apa dan dampak dari pemanasan global, yang berhubungan langsung dengan gas-gas rumah kaca (salah satunya CO2), maka marilah kita merubah gaya hidup kita menjadi seorang VEGETARIAN. Tapi mengapa harus menjadi vegetarian dan harus meninggalkan pola makan daging?

Pada dasarnya, yang harus kita lakukan adalah mengurangi semaksimal mungkin segala aktifitas yang menghasilkan emisi gas rumah kaca.

Penghasil utama emisi gas berbahaya yang mengancam kehidupan kita saat ini bukanlah mobil, motor, bis, truk dengan polusinya, tapi sesuatu yang sederhana, tak berdaya, dan terlihat sangat lezat di meja makan kita, yaitu DAGING.

Dalam laporannya, PBB mencatat bahwa 18% dari pemanasan global yang terjadi saat ini disumbangkan oleh industri peternakan, yang mana lebih besar daripada efek pemanasan global yang dihasilkan oleh seluruh alat transportasi dunia digabungkan! Ini dihitung dari emisi CO2 yang dihasilkan, belum dari kotoran ternak yang menghasilkan gas metan (CH4) yang 23 kali lebih berbahaya dibandingkan dengan CO2 dan NO yang 300 kali lebih berbahaya dari CO2.

Jumlah CO2 dari seekor sapi sama dengan jumlah CO2 yang dikeluarkan kendaraan yang berpergian sejauh 70.000 km. Lalu, seekor sapi seberat 550 kg dapat memproduksi kotoran kira-kira 14,6 ton setiap tahunnya, yang berarti berat ini setara dengan 10 mobil.

Dan tahukah kamu seorang vegetarian yang mengendarai SUV Hummer masih lebih bersahabat dengan lingkungan daripada seorang pemakan daging yang mengendarai sepeda.

MARILAH BERUBAH SEDIKIT DEMI SEDIKIT, UNTUK MENJAGA KEHIDUPAN KITA DI PLANET YANG KITA CINTAI INI

Setelah mengetahui penghasil utama emisi gas berbahaya dari pemanasan global, yaitu daging. Ada tahapan yang bisa kamu ikuti, mulai dari flexitarians (yang masih mengonsumsi sedikit daging), lacto ovo vegetarians (yang membatasi hanya produk olahan hewan saja, seperti susu atau keju), sampai vegan (yang hanya makan sumber nabati saja).

HAL-HAL YANG SEBAIKNYA ANDA KETAHUI :

Pola makan daging dapat merusak keseimbangan planet kita. Berikut adalah fakta-fakta yang berhubungan dengan kerusakan alam yang ditimbulkan oleh pola makan daging.

1. Pemborosan Sumber Daya Alam

Peternakan sapi di seluruh dunia telah menghabiskan makanan yang cukup untuk dikonsumsi oleh 8,7 miliar orang, lebih dari populasi seluruh umat manusia di Bumi. Kelaparan dunia tidak seharusnya terjadi apabila kita semua bervegetarian.

2. Pengerusakan Hutan secara massal

Hutan hujan tropis mengalami penggundulan besar-besaran setiap tahunnya untuk menyediakan lahan peternakan. Setiap vegetarian menyelamatkan 0,5 ha pepohonan setiap tahunnya, sebaliknya 55 ft2 hutan tropis dihancurkan hanya untuk menghasilkan 1 ons burger.

3. Penyebab Polusi

Hewan ternak menciptakan kotoran yang jumlahnya 130 kali lebih banyak dari kotoran yang dihasilkan populasi seluruh umat manusia, yaitu 39,5 ton per detik! Pembuangan dari peternakan dan rumah pemotongan hewan dialirkan langsung ke sungai sehingga mengkontaminasi sumber-sumber air dan juga tanah.

4. Pemborosan Air Bersih

Dibutuhkan 5.000 galon air untuk menghasilkan 1 kg daging, bandingkan dengan 1 kg gandum yang hanya membutuhkan 120 galon air. Diet vegetarian hanya membutuhkan          300 galon air sehari, sementara konsumsi daging membutuhkan lebih dari 4.000 galon sehari.

5. Pemborosan Energi

Lebih dari sepertiga bahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara) yang dikonsumsi di A.S. dihabiskan di sektor peternakan. Mulai dari pemeliharaan, rumah jagal, transportasi, dan pabrik pendukung.

JADILAH PENYELAMAT

JADILAH VEGETARIAN


Hello world!

15Des09

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!